I Made Sumedana

Kalender

June 2022
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tulisan Pemerhati Usadha Bali tentang Covid-19

Tulisan ini saya dapatkan di salah satu group whatsapp di sekolah. Kekhawatiran saya tentang perkembangan dan peningkatan jumlah kasus Covid-19 membuat saya tertarik untuk menitipkan tulisan ini di blog pribadi. Mudah-mudahan Bapak yang punya tulisan ini sempat membacanya, dan saya berterima kasih atas hadirnya tulisan ini, sekaligus mohon ijin untuk menampilkannya di sini. Yang jelas, saya bukan plagiator, karena saya cantumkan tulisan ini lengkap dengan nama penulisnya di akhir tulisan. Saya hanya melakukan edit ringan yang kebetulan salah ketik atau kurang spasi saja. Semoga bermanfaat.

OM SWASTYASTU… ūüôŹMARE KRESEP ARTI NGOYONG JUMAH, DE BENGKUNG,,,,!!!ūüėÉūüėÉ
SEBUAH RENUNGAN DI ERA BARU SETELAH COVID – 19

Bagaimana wajah dunia setelah wabah Covid-19? selengkapnya….

Screen Recorder Menggunakan Ocam

Seiring dengan penyebaran wabah Covid-19,  proses pembelajaran tatap muka akhirnya dihentikan. Pembelajaran berganti dengan pembelajaran dalam jaringan (daring) sehingga cukup banyak inovasi yang harus dilakukan dalam rangka menunjang pelaksanaan pembelajaran di era Covid-19 ini. Para guru harus membuat pola-pola pembelajaran jarak jauh, menggunakan tutorial yang mau tidak mau harus dibuat sendiri untuk diberikan kepada siswanya.

Saya membutuhkan aplikasi untuk merekam proses yang berlangsung pada layar komputer untuk dijadikan video tutorial pembelajaran Simulasi Digital. selengkapnya…..

Ingat blog ini lagi

Entah berapa tahun blog ini sudah tak pernah saya buka, jangankan memposting sesuatu, membuka saja tidak pernah. Ngga tau kenapa, dibilang sibuk juga tidak, dibilang malas juga tidak,…tapi yang jelas,..mungkin lagi nggak mood saja. Terinspirasi dari tulisan-tulisannya mantan dosen saya ketika di ITB (Pak Budi Rahardjo), akhirnya ingin juga membuka blog ini.

Satu hal penting yang dapat saya petik dari tulisannya Pak Budi Rahardjo, (selengkapnya….)

Pribadi Yang Disukai

**  10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai  **
(Tulisan ini adalah Kiriman seorang teman)

 


Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bias membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.
Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah- masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang llain.

 

TENTANG HASIL BELAJAR

 

Banyak pihak telah sependapat  bahwa keberhasilan suatu proses belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar meliputi faktor internal yaitu faktor psikologis dan fisiologis, serta faktor eksternal yaitu lingkungan dan instrumen.

                Faktor instrumen yang banyak mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah media dan metode yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.  Pemilihan media atau metode yang tepat dalam proses pembelajaran suatu konsep, akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan proses pembelajaran.

Apa sesungguhnya belajar itu?

J. Herbart menyebutkan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat indera yang disampaikan dalam bentuk perangsang-perangsang dari luar. Latihan memegang peranan penting, lebih banyak latihan dan ulangan maka akan lebih lama pengalaman dan pengetahuan itu tinggal dalam kesadaran dan ingatan seseorang (Hamalik, 1995: 42).

                Kaum kontruktivis melihat bahwa belajar merupakan proses aktif individu dalam mengkontruksi arti, apakah itu teks dialog, pengalaman fisis maupun yang lain. Belajar juga diartikan sebagai proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki individu sehingga pengertiannya dikembangkan (Suparno,1997: 61).          

Jenis dan Bentuk Kegiatan Belajar

            Pendidik  merupakan suatu komponen yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan (Hamalik 1995: 9).

                Curriculum Guiding Comitee of  the Winconsin Cooperative Educational Planning Program mengadakan klasifikasi tentang kegiatan-kegiatan belajar meliputi kegiatan-kegiatan berikut (Hamalik, 1991: 20) :

– penyelidikan,

– penyajian,

– latihan mekanis,

– apresiasi,

– observasi,

– mendengarkan,

– ekspresi kreatif,

– percobaan,

– mengorganisasi, dan

– menilai.

 

                Ahli lain seperti Paul D. Diedrich membagi kegiatan belajar ke dalam delapan kelompok, yaitu kegiatan visual, moral, mendengarkan, menulis, menggambar, motorik, mental dan emosional.

Terlepas dari itu, untuk menentukan kegiatan-kegiatan belajar mana yang akan dipilih, sebaiknya memperhatikan kriteria sebagai berikut (Hamalik, 1991: 21):

a.         Kegiatan itu hendaknya dikenal oleh anak dan dirasakan kegunaannya oleh murid untuk mencapai tujuan.

b.         Kegiatan-kegiatan ini dipahami oleh guru dalam menuntun anak-anak untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

c.         Sesuai dengan kematangan kelompok, merangsang dapat dijalankan, menuju ke belajar yang baik.

d.         Kegiatan itu banyak varietasnya untuk mengembangkan anak secara seimbang terhadap banyaknya individu dan aktivitas kelompok.

e.         Memungkinkan penggunaan sumber-sumber sekolah dan masyarakat

f.           Kegiatan-kegiatan itu sesuai dengan perbedaan-perbedaan individu. Dengan kata lain, kegiatan itu mampu mengakomodasi perbedaan-perbedaan individu.

Hasil Belajar

Dari sudut pandang awam, hasil belajar memang relatif  sukar diamati, karena sebagian besar merupakan variabel yang abstrak. Seringkali ada pertanyaan, apa yang telah diperoleh selama kegiatan belajar, nilai ujian? Lalu untuk apa? What next? Kadangkala sulit juga untuk membedakan kemampuan (tertentu) dari lulusan SMA dengan lulusan universitas. “Kamu kan sarjana, lalu apa bedanya kamu dengan lulusan SMA? Di mana kelebihanmu? Banyak pertanyaan serupa yang bernada miring yang sering terlontarkan.

Namun demikian, dari sisi keilmuan, hasil belajar dapat diamati, bahkan dapat diukur dengan alat ukur tertentu pula.  Hasil belajar yang diperoleh dapat diukur dan diketahui berdasarkan perilaku sebelum dan sesudah belajar dilakukan, dalam bentuk hasil belajar. Adapun untuk mengukur hasil belajar antara lain dengan tes hasil belajar (ujian). Cronbach berpendapat bahwa ujian merupakan suatu pencapaian yang menunjukkan keberhasilan seseorang dalam proses belajar yang sudah dilakukan (Setyadi- Permana, 2001 : 19).

Setiap kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa tentu akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam dirinya yang dikelompokkan ke dalam ranah kognitif, afektif dan  psikomotor. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian  terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak  lagi menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan sehingga ia tidak suka belajar lagi. Apalagi jika Kegiatan itu tidak dikenal oleh anak dan tidak dirasakan kegunaannya oleh murid untuk mencapai tujuan.

Agar siswa dapat belajar dengan baik, sebaiknya bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pembelajaran yang menarik (Hamalik, 1995 : 43).

Gagne dan Briggs mengkategorikan hasil yang diperoleh dari belajar menjadi lima kategori yaitu (Subiyanto, 1988: 54-57):

a.       Keterampilan intelektual adalah kemampuan seseorang untuk mengadakan respon terhadap lingkungan. Kemampuan ini kalau dijabarkan lagi dari tingkat yang terendah  sampai tingkat yang tertinggi yaitu diskriminasi, konsep konkrit, konsep terumuskan, aturan dan pemecahan masalah.

b.       Strategi kognitif adalah suatu keterampilan yang digunakan untuk mengendalikan tingkah laku berfikirnya sendiri.

c.       Informasi verbal. Individu  memperoleh informasi baik dari sekolah maupun dari luar sekolah. Informasi ini akan dipelajari dan disimpan sebagai hasil belajar . Informasi ini apabila tersusun secara sistematis dan mengandung fakta-fakta atau generalisasi-generalisasi yang berhubungan maka akan menjadi pengetahuan.

d.       Keterampilan motorik. Keterampilan motorik merupakan hasil belajar yang mudah diamati. Keterampilan motorik ini juga dapat berupa keterampilan menggunakan alat-alat yang ada di laboratorium, menggambar, berolah raga dan lain sebagainya.

e.       Sikap

Hasil belajar yang terakhir adalah sikap. Dengan sikap yang ada pada diri individu, maka dia akan dapat menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada. Sikap yang dimaksud adalah kemampuan untuk menghidarkan diri dari egoisme ilmiah, yakni tidak menghargai sudut pandang lain di luar bidang ilmunya. Apakah Anda sudah bebas dari egoisme ilmiah???? If so,… i think you are good person. Just go on with your collage and keep smile.

 

Daftar rujukan :

1.       Hamalik,  O. (1991). Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA, Bandung: CV Sinar Baru.

2.       Hamalik,  O. (1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

3.       Subiyanto (1988). Evaluasi Pendidikan IPA. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

4.       Setyadi-Permana, T. (2001). Kajian Hasil Belajar dan Aspek Afektif Siswa pada Pembelajaran Konsep Invertebrata di SMUN 2 Bandung dengan Tiga Metode Pembelajaran yang Berbeda. Skripsi FPMIPA UPI. Tidak diterbitkan.

5.       Suparno, P (1997). Filsafat kontruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

 

 

 

                               

 

 

 

Aku ingat lagi

waaaw 

Sudah cukup lama ngga nggubris blog, tapi entah mengapa, pagi ini tiba-tiba saja saya inget lagi klu dulu pernah punya blog. Coba utak-atik login,…username nya lupa,…nyoba2 user name yang kebetulan inget,…welehhh…passwordnya lupa. Uh sial banget….udah dicoba login beberapa kali wuihhh…masih salah juga. Atau jangan-jangan wordpress sudah melupakan saya huahahahaha… Hampir pasrah.

Bim salabim,….nyoba sekali lagi,…..
Cruinggggggg……..yeaaaaaahhhh…berhasil
Puas..puas..puas?????

Konyol juga
Mudah-mudahan semangat nulis-nulis ini jadi berkobar lagi seperti dulu.

 

Under construction

I love it  I love it  I love it

 

Jika ada sesuatu yang Anda perlukan, silakan unduh pada link berikut ini. Tapi masih terbatas dan periodically akan dilengkapin lagi, OK?. Klu ada download yg mesti mbayar, ntar bayar sendiri yah??  

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† –

 

I Love it  I Love it  I Love it

 

Expansive-Learning Community


Teori Expansive-Learning Community dibuat oleh Yrjo Engestrom. Seperti halnya Bereiter, Engestrom (1987) mengkritik pendekatan mentalistik dalam belajar. Belajar adalah salah satu bentuk aktifitas manusia yang didasarkan pada kegiatan (action) dalam sistem aktifitas kolektif yang berlangsung dalam konteks sosiohistorical yang lebih besar. Dalam pandangan Engestrom, belajar adalah ‚Äúactivity-producing activity‚ÄĚ dan ‚Äúmastery of expansion from actions to a new activity‚ÄĚ. Dengan demikian, tujuan pokok dari kegiatan belajar adalah untuk menciptakan sebuah bentuk aktifitas baru.
Proses dari expansive-learning community dideskripsikan dalam sebuah lingkaran yang dimulai secara berurutan sebagai berikut : 
a.      pertanyaan individual tentang subyek beserta kritik terhadap
      praktek-praktek yang diterima,
b.      analisis situasi, yaitu analisis tentang penyebab (yang sifatnya
      historis) dan relasi empiris yang dilibatkan dalam sistem
      aktifitas yang dimaksud dalam pertanyaan,
c.       memodelkan sebuah solusi baru terhadap masalah
      yang dihadapi,
d.      melakukan pengujian terhadap model yang dibuat,
      melakukan eksperimen dan mengamati bagaimana 
      model ini bekerja, apa keunggulannya dan apa
      kelemahannya,
e.       mengimplementasikan model dalam aplikasi
      dan kegiatan praktis,
f.       mengevaluasi proses,
g.      mengkonsolidasikan sebuah praktek baru pada
      pola-pola yang baru.

penabuh geguntangan

Pentas tabuh geguntangan (tabuh khas bali yg mengiringi gending2 Bali)¬†¬†merupakan salah satu aktifitas gw di malam hari. Suka aja, rame2 ma temen2 sekalian refreshing. Kawan2,……ini tampang para penabuh geguntangan yang belakangan ini sedang naik daun. Order pentas ngalir teruuuus…. cuman kadang2 mesti nolak krn pas sibuk. Eh,…tapi ada pic aku ga di situ tuh??

 

Knowledge-Building Community

Teori lain tentang pembentukan pengetahuan adalah Knowledge-Building Community. Pendekatan knowledge-building community yang dikembangkan oleh Carl Bereiter (2002) memandang bahwa dalam proses belajar, pendekatan yang dilakukan adalah memposisikan pelajar sebagai guru (expert), dimana dalam situasi pembelajaran, pelajar melakukan sesuatu seperti halnya yang dilakukan oleh seorang guru (expert), meskipun pelajar belum memiliki pengetahuan maupun pengalaman seperti yang dimiliki oleh guru (expert). Dalam situasi pembelajaran itu pelajar berorientasi pada permasalahan yang lebih kompleks, dan pada saat yang sama pelajar meningkatkan kemajuan belajarnya. Bereiter berpendapat bahwa knowledge building process yang melibatkan pekerjaan (working) dalam suatu kompetensi tertentu dapat meningkatkan standar performance dan sekaligus pencapaian kemajuan pengetahuan, tidak hanya pada pembelajaran secara individual tetapi juga pada pembelajaran bersama (community).

Bereiter juga mengkritik kecenderungan beberapa teori belajar yang terlalu mentalistik, dan memandang belajar sebagai akumulasi informasi dalam pikiran seseorang, dan pikiran dianggap sebagai sebuah arsip pengetahuan. Jenis pembelajaran seperti itu menurut Bereiter perlu diganti dengan aktivitas yang dirancang untuk membentuk pengetahuan bersama, yang memerlukan upaya kolaborasi untuk menciptakan, mengembangkan, memahami dan mengkritisi. Tujuan utamanya tidak hanya mempelajari sesuatu tetapi untuk melakukan kolaborasi dalam mengembangkan gagasan baru, metoda, teori, model dan sebagainya, yang dapat digunakan pada masa mendatang.

Ferry and Kiggis (1999) melakukan eksplorasi tentang Knowledge Building Community ini melalui penelitiannya di Walongong University. Dibuat sebuah skenario dimana para pelajar (para calon guru) dipersiapkan menjadi ‚Äúteaching associate‚ÄĚ. Data diambil dengan metoda wawancara, e-mail corresponding dan pengamatan langsung. Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa peran dari ‚Äúteaching associate‚ÄĚ memberi kontribusi yang signifikan, baik dalam meningkatkan kemajuan belajar maupun dalam mempersiapkan para pelajar untuk menjadi guru yang sesungguhnya. Pada akhir tulisannya, Ferry and Kiggis (1999) menyimpulkan bahwa Knowledge-Building Community sangat potensial dalam menyiapkan pendidikan bagi para calon guru.

Lantas apa implikasi dari teori ini bagi sekolah?? Bila dikaji lebih lanjut, dan dihubungkan dengan teori Knowledge-Creating Company oleh Nonaka dan Takeuchi, maka hal pokok yang dikemukakan dalam Knowledge-Building Community lebih mengarah pada metoda presentasi. Dengan kata lain, pembelajaran dengan metoda presentasi dapat dipandang sebagai salah satu metoda yang memadai dalam upaya pembentukan pengetahuan bagi para pelajar. Usul saya, metoda presentasi perlu dikembangkan di sekolah, karena selain dapat membentuk pengetahuan, metoda ini juga cukup baik untuk melatih kemampuan pelajar dalam berkomunikasi dan menampilkan dirinya. Dengan demikian, istilah “kemampuan yang terpendam” lambat laun dapat diaktualisasikan dengan presentasi ini.
Kalau Anda setuju, why not?? mari kita terapkan

Referensi :
1. Bereiter, C.(2002), Education and Mind in the Knowledge Age. Erlbaum, Hillsdale, NJ.
2. Ferry, Brian and Kiggins, Julia. (1999), Making Use of a Knowledge Building Community to Develop Professional Socialization, University of Wollongong.